Profil Sultan Nuku adalah kisah tentang pahlawan nasional dari Maluku Utara yang gigih melawan penjajahan Belanda melalui VOC. Dengan kecerdikan, diplomasi, dan keberanian, Sultan Nuku berhasil menggalang kekuatan rakyat untuk mempertahankan kedaulatan Kesultanan Tidore.
Sultan Nuku lahir sekitar 1738 di Soasio, Tidore, Maluku Utara. Nama lengkapnya adalah Sultan Nuku Muhammad Amiruddin Syah. Ia merupakan pangeran dari Kesultanan Tidore yang sejak muda sudah terbiasa dengan intrik politik dan tekanan kolonial Belanda.
Kondisi Maluku saat itu sangat dipengaruhi oleh VOC yang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah, terutama cengkeh. Hal ini menimbulkan penderitaan rakyat dan mengurangi kedaulatan kerajaan-kerajaan lokal.
Sejak muda, Nuku menentang dominasi Belanda. Setelah ayahnya, Sultan Jamaluddin, dilengserkan oleh VOC, Nuku bertekad untuk merebut kembali kedaulatan Tidore.
Profil Sultan Nuku menonjol ketika ia mengorganisir perlawanan rakyat Tidore dan membangun aliansi dengan rakyat Halmahera, Seram, dan Papua. Ia juga menjalin hubungan dengan Inggris sebagai penyeimbang VOC.
Perlawanan Nuku berlangsung panjang, sejak 1780-an hingga awal 1800-an. Ia memimpin armada laut dan pasukan gerilya untuk menyerang basis VOC.
Salah satu keunggulan Sultan Nuku adalah kemampuannya memadukan strategi militer dengan diplomasi. Ia menggalang kekuatan dari berbagai suku di Maluku Utara untuk melawan VOC.
Menurut Wikipedia, perjuangan Sultan Nuku membuatnya dijuluki “Imam Besar” karena dianggap sebagai pemimpin spiritual dan politik yang karismatik.
Pada 1797, Sultan Nuku berhasil merebut kembali takhta Tidore dan diangkat sebagai Sultan Tidore dengan gelar Sultan Nuku Muhammad Amiruddin Syah.
Sebagai sultan, ia melanjutkan perjuangan melawan VOC sekaligus berusaha memulihkan kejayaan Tidore. Ia bahkan mendapat pengakuan dari Inggris yang saat itu bersaing dengan Belanda di kawasan Maluku.
Sultan Nuku wafat pada 14 November 1805 di Soasio, Tidore. Meski demikian, perjuangannya tidak sia-sia. Ia dikenang sebagai pahlawan yang berhasil mempertahankan kedaulatan rakyat Maluku Utara dari dominasi kolonial.
Sultan Nuku ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 1995. Namanya diabadikan sebagai nama universitas di Tidore, Universitas Nuku, serta nama jalan dan berbagai institusi di Maluku Utara.
Profil Sultan Nuku menjadi teladan keberanian, kepemimpinan, dan diplomasi dalam menghadapi penjajahan.
Seperti dicatat dalam Britannica, Maluku adalah kawasan penting dalam sejarah kolonial karena rempah-rempah, dan tokoh seperti Nuku memainkan peran sentral dalam perlawanan terhadap monopoli asing.
Untuk pembaca yang ingin mengenal pejuang Maluku lain, bisa membaca biografi Pattimura, pahlawan yang juga terkenal melawan Belanda di Maluku.
Profil Sultan Nuku menggambarkan pahlawan Maluku Utara yang gigih melawan VOC dengan strategi militer dan diplomasi. Dengan semangatnya, ia berhasil merebut kembali kedaulatan Kesultanan Tidore dan dikenang sebagai simbol perjuangan rakyat Maluku Utara.

