Profil Maria Walanda Maramis adalah kisah tentang tokoh perempuan Minahasa yang berjasa besar dalam memperjuangkan hak perempuan melalui pendidikan dan organisasi. Ia mendirikan organisasi yang menjadi wadah perjuangan perempuan untuk memperoleh kesempatan yang lebih luas di bidang sosial, pendidikan, dan politik.
Maria Walanda Maramis lahir pada 1 Desember 1872 di Kema, Minahasa, Sulawesi Utara. Ia berasal dari keluarga sederhana. Sejak kecil, Maria tumbuh dengan semangat belajar yang tinggi, meski pada masa itu akses pendidikan untuk perempuan masih sangat terbatas.
Pengalaman hidupnya membuat Maria menyadari pentingnya pendidikan bagi perempuan, sehingga ia kemudian mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan emansipasi.
Sebagai perempuan Minahasa, Profil Maria Walanda Maramis menonjol karena kepeduliannya terhadap nasib kaum perempuan. Pada saat sebagian besar perempuan hanya diarahkan pada urusan rumah tangga, Maria berpikir jauh ke depan.
Pada 1917, ia mulai aktif menulis artikel di surat kabar Tjahaja Siang yang terbit di Manado. Tulisan-tulisannya banyak membahas pentingnya pendidikan bagi perempuan serta perlunya keterlibatan perempuan dalam pembangunan masyarakat.
Puncak perjuangan Maria adalah ketika ia mendirikan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT) pada 1919. Organisasi ini berfokus pada pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan keterampilan.
PIKAT mendirikan sekolah-sekolah keterampilan rumah tangga bagi perempuan Minahasa. Dari sekolah ini, perempuan diajarkan keterampilan menjahit, merenda, memasak, hingga keterampilan sosial yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Wikipedia, PIKAT kemudian berkembang pesat hingga memiliki cabang di berbagai daerah Sulawesi Utara.
Profil Maria Walanda Maramis menunjukkan pemikirannya yang maju pada masanya:
- Perempuan harus memiliki akses pendidikan agar bisa mandiri.
- Perempuan berhak aktif dalam organisasi sosial dan politik.
- Keluarga akan lebih sejahtera jika perempuan juga berpendidikan.
Gagasannya sejalan dengan tokoh emansipasi perempuan lain seperti R.A. Kartini, namun Maria lebih menekankan pentingnya organisasi sebagai wadah perjuangan.
Maria Walanda Maramis wafat pada 22 April 1924 di Manado. Perjuangannya tidak berhenti begitu saja, karena PIKAT terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi lahirnya organisasi perempuan lainnya di Indonesia.
Atas jasanya, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1969.
Hingga kini, Profil Maria Walanda Maramis dikenang sebagai pelopor organisasi perempuan Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, sekolah, dan monumen di Sulawesi Utara.
Setiap tanggal 1 Desember, masyarakat Sulawesi Utara memperingati hari lahirnya sebagai bentuk penghormatan atas jasanya.
Seperti dicatat dalam Britannica, perjuangan perempuan melalui organisasi menjadi fondasi penting dalam gerakan feminisme di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Untuk pembaca yang ingin mengenal tokoh emansipasi lain, bisa membaca biografi Rohana Kudus, jurnalis perempuan pertama Indonesia yang juga berjuang lewat pena.
Profil Maria Walanda Maramis menggambarkan perjuangan seorang perempuan Minahasa yang rela mendedikasikan hidupnya demi pendidikan dan kemajuan perempuan. Melalui organisasi PIKAT, ia membuka jalan bagi gerakan perempuan Indonesia dalam memperjuangkan haknya.

