22 Jan 2026, Thu

Profil Rohana Kudus adalah kisah tentang perempuan Minangkabau yang dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Dengan tulisan-tulisannya, ia memperjuangkan emansipasi perempuan dan membuka jalan bagi peran perempuan dalam dunia pendidikan serta pers nasional.


Latar Belakang Hidup

Rohana Kudus lahir pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Sumatra Barat. Ia merupakan kakak dari Sutan Sjahrir, yang kelak menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia.

Sejak kecil, Rohana sudah menunjukkan kecerdasan dan semangat belajar yang tinggi. Namun, keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan pada masa kolonial membuatnya harus belajar secara mandiri dan banyak membaca.


Awal Perjuangan

Sebagai perempuan Minangkabau, Profil Rohana Kudus menonjol karena keberaniannya menentang norma yang membatasi ruang gerak perempuan.

Pada 1911, ia mendirikan sekolah perempuan di Koto Gadang bernama Sekolah Kerajinan Amai Setia. Sekolah ini mengajarkan baca tulis, keterampilan, dan pengetahuan umum untuk memberdayakan kaum perempuan.


Karier Jurnalisme

Puncak perjuangan Rohana Kudus adalah kiprahnya di dunia pers. Pada 1912, ia mendirikan surat kabar Soenting Melajoe, yang dikelola dan ditulis oleh kaum perempuan.

Melalui tulisannya, Rohana mengangkat isu pendidikan, emansipasi, dan hak-hak perempuan. Surat kabar ini menjadi wadah bagi perempuan untuk menyuarakan pendapatnya pada masa penjajahan.

Menurut Wikipedia, Rohana Kudus adalah jurnalis perempuan pertama di Indonesia yang diakui secara nasional.


Pemikiran dan Gagasan

Profil Rohana Kudus menunjukkan gagasan-gagasan yang progresif:

  • Perempuan harus mendapat pendidikan setara dengan laki-laki.
  • Perempuan berhak berpartisipasi dalam pembangunan bangsa.
  • Media adalah alat penting untuk menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan keadilan.

Pemikiran ini membuatnya sejajar dengan tokoh emansipasi perempuan lain seperti R.A. Kartini dan Dewi Sartika.


Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional

Rohana Kudus wafat pada 17 Agustus 1972 di Jakarta. Meskipun kiprahnya sempat terlupakan, akhirnya pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2019.

Pengakuan ini menjadi bukti nyata bahwa perjuangannya di bidang jurnalisme dan emansipasi perempuan memiliki kontribusi besar bagi bangsa.


Warisan dan Pengaruh

Hingga kini, Profil Rohana Kudus dikenang sebagai teladan bagi jurnalis perempuan Indonesia. Namanya diabadikan di berbagai jalan dan lembaga pendidikan.

Warisan terbesarnya adalah keberanian untuk melawan diskriminasi gender dan menggunakan pena sebagai senjata perjuangan.

Seperti dicatat dalam Britannica, jurnalisme sering menjadi alat perubahan sosial, dan Rohana Kudus adalah contoh nyata di Indonesia.

Untuk pembaca yang ingin memahami tokoh emansipasi lain, bisa membaca biografi Dewi Sartika, perintis pendidikan perempuan Sunda.


Kesimpulan

Profil Rohana Kudus menggambarkan perjuangan seorang perempuan Minangkabau yang menggunakan pendidikan dan jurnalisme untuk membebaskan bangsanya dari belenggu ketidakadilan. Sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia, ia telah membuka jalan bagi generasi penerus untuk terus berjuang lewat tulisan.