Profil Ki Bagus Hadikusumo adalah kisah tentang seorang ulama besar, pemimpin Muhammadiyah, sekaligus perumus Pancasila yang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Sebagai anggota BPUPKI, ia turut membahas dasar negara yang kemudian menjadi fondasi bangsa Indonesia.
Ki Bagus Hadikusumo lahir pada 24 November 1890 di Kauman, Yogyakarta. Nama kecilnya adalah Muhammad Hadan. Ia tumbuh dalam lingkungan religius, dididik dalam tradisi Islam yang kuat, dan sejak muda sudah menunjukkan ketekunan dalam mempelajari agama.
Ia kemudian aktif di Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam modern yang didirikan Ahmad Dahlan. Dari sinilah namanya semakin dikenal sebagai ulama pembaharu.
Sebagai tokoh Muhammadiyah, Profil Ki Bagus Hadikusumo mencerminkan pemikirannya yang progresif. Ia menekankan pentingnya pendidikan, dakwah, dan modernisasi Islam agar sesuai dengan perkembangan zaman.
Pada 1942, ia terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah menggantikan KH Mas Mansur. Kepemimpinannya berlangsung di masa sulit, yakni ketika Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang.
Ki Bagus Hadikusumo adalah salah satu anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Dalam sidang-sidang BPUPKI, ia aktif menyuarakan pandangannya tentang dasar negara.
Menurut Wikipedia, Ki Bagus termasuk tokoh yang berperan dalam perumusan Piagam Jakarta, yang menjadi cikal bakal Pancasila.
Ia mengusulkan agar dasar negara tetap mencerminkan nilai-nilai ketuhanan tanpa menghilangkan persatuan bangsa. Pandangannya sangat berpengaruh dalam kompromi politik antara golongan Islam dan nasionalis.
Profil Ki Bagus Hadikusumo tidak bisa dilepaskan dari perannya dalam perubahan sila pertama Pancasila. Pada awalnya, sila pertama berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Namun, demi persatuan bangsa, ia rela menerima perubahan menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sikapnya ini menunjukkan keluhuran jiwa dan komitmen terhadap persatuan nasional.
Seperti dicatat dalam Britannica, perubahan ini menjadi tonggak penting dalam menjaga integrasi bangsa Indonesia yang majemuk.
Ki Bagus Hadikusumo menekankan beberapa prinsip utama:
- Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai fondasi moral bangsa.
- Pendidikan Islam modern untuk mencerdaskan umat.
- Kebersamaan dan persatuan sebagai syarat kemerdekaan.
Filosofi ini membuatnya dikenang sebagai ulama sekaligus negarawan.
Ki Bagus Hadikusumo wafat pada 4 Februari 1954 di Yogyakarta. Ia meninggalkan warisan besar dalam bidang pemikiran Islam, pendidikan, dan kebangsaan.
Atas jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1973.
Warisan Ki Bagus Hadikusumo tidak hanya berupa perannya di Muhammadiyah, tetapi juga kontribusinya dalam lahirnya Pancasila.
Profil Ki Bagus Hadikusumo menjadi teladan tentang bagaimana seorang ulama bisa berperan penting dalam merumuskan dasar negara modern yang plural dan inklusif.
Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan dan lembaga pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.
Untuk pembaca yang ingin memahami rekan seperjuangannya, bisa membaca biografi Supomo, sesama anggota BPUPKI yang juga berperan dalam merumuskan konstitusi Indonesia.
Profil Ki Bagus Hadikusumo menggambarkan seorang ulama yang berperan penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Dengan kontribusinya di Muhammadiyah dan BPUPKI, ia ikut memastikan bahwa dasar negara Indonesia mencerminkan nilai ketuhanan sekaligus menjaga persatuan bangsa.

