10 Apr 2026, Fri

Profil Pangeran Antasari adalah kisah tentang pahlawan nasional asal Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai pemimpin Perang Banjar melawan kolonial Belanda pada abad ke-19. Dengan keberanian dan tekad yang kuat, Pangeran Antasari menjadi simbol perlawanan rakyat Banjar terhadap penjajahan.


Latar Belakang Hidup

Pangeran Antasari lahir sekitar tahun 1797 di Kayutangi, Martapura, Kalimantan Selatan. Ia merupakan keturunan Kesultanan Banjar dan cucu dari Sultan Banjar ke-10, Sultan Tahmidullah II.

Sejak kecil, Antasari tumbuh dalam lingkungan bangsawan, tetapi ia memilih hidup sederhana dan dekat dengan rakyat. Hal inilah yang membuatnya dicintai oleh masyarakat Banjar.


Awal Perlawanan

Ketidakadilan Belanda dalam menguasai Kesultanan Banjar memicu perlawanan rakyat. Belanda ikut campur dalam urusan istana, bahkan berusaha menentukan sultan yang berpihak kepada mereka.

Profil Pangeran Antasari menonjol pada tahun 1859, ketika rakyat Banjar bangkit melawan Belanda. Pangeran Antasari tampil sebagai pemimpin perlawanan yang mempersatukan tokoh-tokoh Banjar, Dayak, dan suku-suku lain di Kalimantan.


Perang Banjar

Perang Banjar meletus pada 1859 dan berlangsung bertahun-tahun. Pangeran Antasari memimpin pasukan gerilya melawan Belanda di hutan-hutan Kalimantan Selatan.

Salah satu peristiwa penting adalah serangan terhadap tambang batu bara Belanda di Pengaron dan benteng mereka di Kalimantan. Perlawanan ini menunjukkan bahwa rakyat Banjar tidak takut menghadapi senjata modern Belanda.

Menurut Wikipedia, Pangeran Antasari mendapat dukungan luas karena keberanian dan sifatnya yang merakyat.


Strategi dan Kepemimpinan

Sebagai pemimpin, Pangeran Antasari menggunakan taktik perang gerilya. Ia menyerang Belanda secara tiba-tiba lalu menghilang ke pedalaman. Strategi ini membuat Belanda kesulitan menundukkan perlawanan rakyat Banjar.

Selain sebagai panglima perang, ia juga tokoh spiritual yang menanamkan keyakinan bahwa perjuangan melawan penjajah adalah bagian dari jihad. Seruannya, “Hidup untuk Allah dan mati syahid!”, membakar semangat rakyat Banjar.


Akhir Perjuangan

Pada 1862, Pangeran Antasari terserang penyakit cacar. Meski sakit, ia tetap berusaha memimpin perlawanan. Namun, pada 11 Oktober 1862, ia wafat di Bayan Begok, Kalimantan Selatan.

Kabar wafatnya Pangeran Antasari tidak memadamkan semangat rakyat Banjar. Perlawanan tetap berlanjut di bawah penerusnya hingga bertahun-tahun kemudian.


Warisan dan Pengaruh

Pangeran Antasari diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 1968. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, universitas, hingga markas militer di Kalimantan Selatan.

Profil Pangeran Antasari dikenang sebagai pemimpin berani yang berjuang tanpa pamrih untuk rakyatnya. Ia menjadi simbol perlawanan Banjar sekaligus inspirasi perjuangan nasional.

Seperti dicatat dalam Britannica, perlawanan lokal seperti Perang Banjar turut memperkuat semangat nasionalisme Indonesia di masa kolonial.

Baca juga : Profil Dewi Sartika: Perintis Pendidikan Perempuan Sunda


Kesimpulan

Profil Pangeran Antasari menunjukkan perjalanan seorang pemimpin yang memadukan keberanian, kebijaksanaan, dan spiritualitas dalam melawan kolonial Belanda. Meski wafat karena sakit, perjuangannya tetap hidup dalam semangat rakyat Banjar dan bangsa Indonesia.